Ditolong Allah Lewat Orang Lain

Republika, Jumat, 23 September 2005
Sjafri Sairin:
Ditolong Allah Lewat Orang Lain

Mendapat Pertolongan Allah selalu lewat orang lain. Itulah yang sering dialami oleh Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Dr H Sjafri Sairin MA. Sebagai anak dari ibu yang buta huruf dan hanya seorang pedagang kaki lima di Medan, rasanya mustahil bagi Sjafri untuk bisa menjadi “orang”.

Namun, pertolongan dan kemurahan Allah SWT, begitu menurutnya, seolah tak pernah putusnya. Ia yang ketika remaja hanya bercita-cita jadi pegawai negeri biasa, memperoleh lebih dari itu. ”Alhamdulillah, saya sudah mendapatkan yang paling pucuk,”tutur Sjafri.

Di dunia pendidikan Sjafri sudah mendapatkan gelar tertinggi yaitu guru besar, sedangkan sebagai pegawai di birokrasi, ia sudah pernah mendapatkan golongan tertinggi (eselon I), yaitu saat menjabat deputi bidang Dinamika Sosial Menteri Riset dan Teknologi (2003-2005).

Lepas dari bangku SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama), Syafri merantau ke Pulau Jawa dan melanjutkan studinya di Jurusan Antropologi UGM yang waktu itu baru dibuka. Tahun kedua kuliah, ia sudah diangkat menjadi mahasiswa pembantu dosen atau asisten dosen. Ia satu-satunya mahasiswa jurusan Antropologi UGM yang mengikuti program ikatan dinas Departemen Pendidikan dan Kebudayaan saat itu.

Setelah lulus sarjana dari Jurusan Antropologi, UGM Sjafri sempat menganggur selama lima bulan. Beruntung, datang tawaran dari Prof Dr Masri Singarimbun yang waktu itu sebagai Kepala Pusat Kependudukan UGM, untuk mengikuti training tentang ilmu kependudukan di East West Center, Honolulu, Hawaii selama satu semester. ”Melalui Pak Masri, Tuhan menolong saya,”kata pria kelahiran Bukittinggi, 14 Februari 1945 ini.

Sepulang dari Hawaii tahun 1975, mantan deputi Bidang Dinamika Sosial, Menteri Riset dan Teknologi ini diangkat menjadi dosen tetap dan juga menjadi staf peneliti di Pusat Kependudukan UGM. Ia mengajar ekonomi antropologi. Sebagai staf peneliti, ia tertarik untuk meneliti soal perburuhan. Ia menuangkan hasil penelitiannya tentang penderep (buruh panen padi) dalam Majalah Ilmiah Prisma tahun 1976 atas saran Masri Singarimbun.

Tak dinyana, berkat tulisannya, Sjafri ditawari melanjytkan strudi strata dua (S-2) oleh Ford Foundation dan Rockfeller Foundation. berangkatlah ia ke Australian National University, Australia dan pulang tahun 1980. Beberapa minggu kemudian, tiba-tiba ia bertemu dengan Joseph Black dari Rockfeller Foundation, dan menawarinya untuk sekolah S3 di Cornell University. Ia pun akhirnya berangkat ke Amerika Serikat.

Pertolongan dari Allah, Sjafri rasakan tak hanya berhenti di situ. ”Tuhan selalu menolong saya melalui orang lain,” ujarnya. Dari situ ia melihat, dalam menjalani hidup ini, manusia tidak bisa hidup “bersendiri”. Kunci hidup bersama, katanya, ”Jangan segan-segan membantu orang lain dan jangan mempersulit orang. Mungkin jalan yang diberikan Allah kepada orang lain itu melalui kita,” kata Sjafri yang dalam pergaulannya tidak pernah membeda-bedakan berdasarkan struktur, agama, maupun etnik.

Suatu saat ia berkeinginan untuk menunaikan ibadah haji. Kebetulan tabungan hajinya sudah mencukupi untuk pergi bersama isterinya, Siti Fatimah. ”Namun isteri saya katanya belum mantap. Walaupun demikian kami tetap mendaftar,” ujarnya. Tetapi karena kuotanya sudah penuh, ia mendaftar untuk tahun berikutnya.

Tiba-tiba pada waktu subuh, Sjafri ditelpon oleh seseorang yang mengatakan bahwa ia mendapat undangan menunaikan ibadah haji ke Saudi Arabia. Diantara teman-temannya, memang hanya dia yang belum naik haji. Tahun itu juga berangkatlah dia ke Saudi Arabia. Tahun berikutnya, karena sudah niat menunaikan haji dengan isteri, ia berangkat lagi ke Saudi Arabia.

Tahun 1999, ia diminta oleh para dosen muda untuk mencalonkan diri sebagai dekan. Tetapi ia tidak tertarik. Sebelum penutupan pendaftaran, ia dipaksa untuk menandatangani kesediaannya untuk ikut partisipasi dalam pencalonan dekan. Ternyata 80 persen dari suara memilih dia sebagai dekan. ”Karena saya diberi tanggungjawab, harus saya jalankan dengan sebaik-baiknya,”kata dia.

Baru sekitar dua tahun menjadi dekan, ia mendapat faksimili dari kantor Menristek agar datang ke Jakarta untuk dilantik sebagai deputi Menristek Bidang Dinamika Masyarakat. ”Saya sempat terkejut. Sebelumnya saya tidak tahu kalau saya akan ditunjuk sebagai Deputi Menristek, karena saya tidak pernah cari-cari maupun mengejar jabatan,” tutur Sjafri yang tahun 1994-2000 menjadi Kepala Pusat Studi Kebudayaan dan Perubahan Sosial UGM ini.

Pada tanggal 18 April 2005 berakhir masa tugasnya sebagai Deputi Menristek karena usianya sudah di atas 60 tahun dan harus memasuki masa pensiun. Walaupun demikian, ia tidak merasakan kehilangan. Menurutnya, jabatan itu hanyalah pinjaman dari Allah dan itu hanya tugas sementara yang harus kita jalankan dengan sebaik-baiknya. ”Sekarang saya nikmati kembali hidup ini sebagai pengajar dan selalu mensyukuri nikmat yang diberikan Allah,”tutur ayah dari tiga putri ini.

Prof Dr H Sjafri Sairin, MA

Tanggal lahir: Bukittinggi, 14 Februari 1945
Istri: Hj Siti Fatimah
Anak-anak: Wenty Marina Minza
Tiessa Amelia Minza

Felma Annisa Minza
Pendidikan: Jurusan Antropologi UGM
Pasca Sarjana Antropologi, Australian National University,Australia (1981)
Doktor di bidang Antropologi (Development Sociology and BR> Asia Studies), Cornell University, USA, 1991

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: