Makanan Haram

Republika, Jumat, 19 Mei 2006
Oleh : Ummu Fathin

Allah SWT menciptakan siang untuk mencari penghidupan dan malam untuk istirahat dan beribadah. ”Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan.” (QS An-Naba’ (78): 10-11).

Islam memerintahkan agar dalam mencari rezeki itu dengan cara yang baik dan halal. ”Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi.” (QS Al-Baqarah (2): 168). Dalam ayat yang lain disebutkan, ”Dan janganlah sebagian kalian memakan harta sebagian yang lain dengan cara yang batil.” (QS Al-Baqarah (2): 188).

Suatu ketika Sa’ad bin Abi Waqash berkata, ”Ya Rasulullah, doakan kepada Allah agar aku senantiasa menjadi orang yang dikabulkan doanya.” Maka Rasulullah SAW bersabda, ”Perbaikilah makananmu (makanlah makanan yang halal) niscaya engkau akan menjadi orang yang selalu dikabulkan doanya. Sungguh jika ada seseorang yang memasukkan makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amal-amalnya selama 40 hari, dan seorang hamba yang dagingnya tumbuh dari hasil menipu dan riba maka neraka lebih layak baginya. (HR At-Thabrani).

Makanan haram bisa disebabkan memang zatnya yang haram, seperti bangkai, daging babi, dan darah. Atau, karena haram cara mendapatkannya, seperti mencuri, riba, curang dalam jual beli, korupsi, atau suap.

Praktik mendapatkan harta dengan cara yang haram dapat dengan mudah kita saksikan di zaman ini. Perampokan, penipuan, riba, korupsi, kolusi adalah contoh nyata. Makanan yang kotor dan haram akan memberikan pengaruh negatif terhadap hati, akhlak, dan menghalangi hubungan dengan Allah SWT, serta menyebabkan tidak terkabulnya doa.

Para salafus saleh sangat berhati-hati terhadap makanan yang masuk ke mulut dan perut mereka. Abu Bakar mempunyai pembantu yang selalu menyediakan makanan untuknya. Suatu kali pembantu tersebut membawa makanan, ia pun memakannya. Setelah tahu bahwa makanan itu diperoleh dengan cara haram, serta-merta ia masukkan jari tangannya ke kerongkongan. Kemudian, ia muntahkan kembali makanan yang baru saja masuk itu.

Imam An-Nawawi ketika hidup di negeri Syam, ia tidak mau memakan buah-buahan di negeri tersebut. Tatkala orang menanyakan tentang sebabnya, ia menjawab, ”Di sana ada kebun-kebun wakaf yang telah hilang, maka saya khawatir memakan buah-buahan dari kebun tersebut.”

Berapa banyak doa yang telah kita panjatkan kepada Allah SWT, berapa banyak istighotsah digelar. Namun, kenyataannya bencana demi bencana tetap melanda, berbagai krisis tidak teratasi, dan berbagai kesulitan tak kunjung usai. Mungkinkah ini karena bangsa Indonesia sudah terbiasa dengan praktik-praktik mendapatkan harta dengan cara yang haram, sehingga Allah SWT tidak mengabulkan doa kita?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: