Nasihat Seorang Anak

Republika, Selasa, 23 Mei 2006
Oleh : Ali Farkhan Tsani

Menjelang dini hari Khalifah Umar bin Khathab disertai stafnya melakukan inspeksi mendadak ke pinggiran kota. Dari sebuah rumah kecil, didengarnya percakapan dua orang wanita. Kata sang Ibu, ”Nak, campur saja susunya dengan air.”

”Tapi Bu, Amirul Mukminin melarang kita mencampur susu yang hendak kita jual dengan air,” jawab anak gadisnya. ”Tapi banyak orang melakukan hal itu, Nak. Toh Amirul Mukminin tidak mengetahuinya,” kilah sang Ibu. ”Bu, sekalipun Amirul Mukminin tidak mengetahuinya, namun Tuhannya Amirul Mukminin pasti mengetahuinya!” jawab sang anak.

Mendengar ucapan gadis itu, berlinanglah air mata keharuan dan kegembiraan Umar bin Khathab. Esok harinya ia menyuruh stafnya untuk meyelidiki. Ternyata suami ibu itu telah syahid di medan perang. Mereka hidup serba kekurangan.

Lalu Umar berkata kepada putranya, Ashim bin Umar. ”Pergilah temui mereka, dan lamarlah anak gadis itu untuk menjadi istrimu. Aku melihat ia akan memberikan berkah kepadamu kelak. Semoga ia dapat melahirkan keturunan yang akan menjadi pemimpin umat.”

Ashim bin Umar pun memenikahi gadis itu. Hasil pernikahan mereka lahirlah anak perempuan bernama Laila, yang kelak dinikahi Abdul Azis bin Marwan. Dari pasangan ini lahirlah Umar bin Abdul Azis, pemimpin umat yang dikenal adil dan zuhud.

Dari kisah ini, ada tiga pelajaran yang bisa kita petik. Pertama, perlunya pemimpin mengontrol umat yang dipimpinnya. Pemimpin adalah penggembala yang akan dimintai pertanggungjawaban tentang gembalaannya. ”Tidaklah dari seorang pemimpin yang menggembala kaum Muslimin, lalu ia mati dalam keadaan menipu (curang) kepada mereka, kecuali Allah akan mengharamkan surga baginya.” (HR Bukhari Muslim).

Kedua, pentingnya memberi nasihat, sekalipun terhadap orang tua atau pemimpin sendiri. Walau terasa berat, namun ini demi mendapat ridha dan keselamatan bersama di hadapan Allah SWT. ”Sesungguhnya Allah ridha kepada kalian dengan tiga perkara dan benci kepada kalian dengan tiga perkara. Adapun (tiga perkara) yang menjadikan Allah ridha hendaklah kalian memperibadati-Nya jangan mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, hendaklah kamu berpegang teguh pada tali (agama) Allah dengan berjamaah dan jangan berpecah-belah, dan hendaklah kalian senantiasa menasihati yang memimpin urusan kalian.

Adapun Allah membenci kalian dengan tiga perkara, mengatakan sesuatu yang belum jelas kebenarannya, menghambur-hamburkan harta, dan banyak bertanya yang tidak berfaidah.” (HR Ahmad dari Abi Hurairah). Ketiga, berjiwa ihsan, yakni merasakan pengawasan Allah dalam melakukan aktivitas kehidupan, sehingga terhindar dari perbuatan seperti korupsi, kolusi, menipu, berbuat curang, dan kegiatan maksiat lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: