Indonesia Menunggu Putin

Indonesia Menunggu Putin Cetak halaman ini Kirim halaman ini melalui E-mail
Kamis, 08 November 2007
var sburl3471 = window.location.href; var sbtitle3471 = document.title;var sbtitle3471=encodeURIComponent(“Indonesia Menunggu Putin”); var sburl3471=decodeURI(“http://hidayatullah.com/index.php?option=com_content&task=view&id=5712”); sburl3471=sburl3471.replace(/amp;/g, “”);sburl3471=encodeURIComponent(sburl3471);

Demokrasi liberal terbukti gagal menyejahterakan rakyat Rusia. Presiden Putin mencampakkannya. Rakyat mendukungnya. [pertama dari dua tulisan]

Oleh: Amran Nasution

“From Russia With Love” amat popular di akhir 1960-an. Film itu mengisahkan percintaan spionase Barat, James Bond, dengan cewek Rusia yang cantik, sewaktu perang dingin. Masa itu Amerika dan sekutu Baratnya, berhadapan dengan Rusia dan Fakta Warsawa.

Kedua kelompok saling siaga: perang tidak, damai pun tidak. Tapi arsenal nuklir diarahkan kepada lawan. Dunia menjadi tegang. Setiap saat perang nuklir bisa meletus.

Kini judul itu harus diganti From Russia With Putin. Soalnya, Vladimir Putin, Presiden Rusia itu, mencorong namanya. Dia berani melawan Barat sehingga dunia kembali terancam perang dingin.

Putin, 55 tahun, berhasil mengangkat negerinya ke posisi yang harus diperhitungkan dalam percaturan politik internasional. Padahal ketika menggantikan Presiden Boris Yeltsin yang mengundurkan diri, Desember 1999, ia menerima Rusia sebagai warisan yang porak-poranda.

Sistem kapitalisme dan demokrasi liberal yang disyaratkan IMF dan Bank Dunia untuk Rusia, setelah tumbangnya rezim komunis Uni Soviet, ternyata bukan resep yang tepat. Tapi Yeltsin menjalankannya dengan taat.

Kenyataan yang terjadi: politik jadi kacau-balau, ekonomi hancur-lebur. Pada masa itulah bisa dilihat di layar televisi, gedung parlemen (Duma) dikepung panser. Pada masa itu pula bisa disaksikan orang Rusia mengikuti antrean berkilometer, di tengah hujan salju, hanya demi sepotong roti. Padahal di sana musim dingin sangatlah kejam. Apa mau dikata, kebanyakan mereka adalah para penganggur sebab waktu itu pengangguran memang mewabah.

Singkat cerita, Rusia menjadi contoh kongkret dari kegagalan komunisme. Bagaimana sebuah imperium yang berpengaruh atas separuh dunia, kemudian ambruk, terpecah-pecah, selalu dirundung huru-hara politik, dilengkapi dengan kebangkrutan ekonomi. Negeri ini benar-benar sudah dipandang sebelah mata. Sampai kemudian datanglah Putin.

Hanya dalam tempo 7 tahun, Putin mengubah segalanya. Koran The New York Times, 1 November 2006, memuat sebuah reportase yang sangat simbolik, bagaimana para vendor (penjual) barang-barang super-mewah kini berebutan datang ke Moskow. Yang mereka jajakan adalah pesawat jet, kapal pesiar (yachts), pulau eksklusif, dan berbagai komoditi wah lainnya.

Misalnya, ada yang menawarkan pesawat telepon selular, harganya 150.000 dollar atau sekitar Rp 1,4 milyar. Itu belum apa-apa. Merk yang sama ditawarkan sampai 1,27 juta dollar, lebih Rp 10 milyar. HP bikinan perusahaan GoldVish dari Geneva itu, terbuat dari emas putih bertatahkan berlian 120 karat.

Musuh-musuh Putin, terutama kaum Neo Conservative atau Neocon, mencoba meremehkan keberhasilan itu dengan menyebut meroketnya harga minyak yang menyebabkan Rusia menjadi kaya. Neocon adalah kelompok pemikir di Amerika – mayoritas keturunan Yahudi – yang ingin Amerika menjadi penguasa dunia satu-satunya dengan cara apa pun, termasuk menggunakan kekuatan senjata. Afghanistan dan Iraq adalah korban dari kelompok yang sering dijuluki kaum hawkish itu, karena kegemaran mereka menghasut Amerika untuk berperang.

Pernyataan para Neocon itu hanya separuh benar. Bahwa harga minyak sekarang 90 dollar/barel memang membuat Rusia tambah kaya-raya. Itu dialami Arab Saudi, Kuwait, Iran, Norwegia, dan negara eksportir minyak lainnya.

Tapi kenyataannya sejak dipimpin Putin, perekenomian Rusia langsung pulih, sekali pun harga minyak belum naik. Lembaga think-tank di Washington, Carnegie Endowment, April 2000, sudah melaporkan berbagai indikator yang menunjukkan tanda-tanda kebangkitan ekonomi bekas negeri komunis itu.

Itu antara lain dilihat dari pertumbuhan sektor industri kimia seperti pulp dan kertas, mesin-mesin, serta industri ringan. Investasi asing pun mulai tumbuh. ’’Minyak dan gas tak menonjol dalam pemulihan ekonomi ini,’’ begitu laporan Carnegie Endowment yang dirilis 4 April 2000. Peter Boone, ekonom tamatan Harvard University dari perusahaan pialang Brunswick Warburg di Moskow, meramalkan ekonomi Rusia tahun itu akan tumbuh 5%.

Ketika itu, harga minyak masih di bawah 20 dollar/barel. Seperti diketahui harga baru melambung tinggi setelah tentara Amerika Serikat menyerbu Iraq, Maret 2003. Iraq ketika itu adalah produsen minyak ketiga setelah Arab Saudi dan Iran. Produksinya terganggu karena penyerbuan.. Sampai sekarang pun, produksi minyak negeri 1001 malam yang dijajah Amerika itu, belum juga pulih karena faktor keamanan.

Jadi, Rusia, Arab Saudi, dan negara lainnya, menikmati bonanza minyak karena tindakan konyol Presiden Bush dan para Neocon yang mengelilinginya. Sementara itu, sebagai negara pengimpor minyak terbesar dunia, ekonomi Amerika pasti paling merasakan dampak melangitnya harga. Sekarang sudah terlihat, setiap kali harga minyak naik, setiap kali pula nilai dollar merosot.

Berbagai ramalan tentang Rusia memang menjadi kenyataan. Ekonomi negeri itu tumbuh rata-rata 7%/tahun, investasi asing melonjak, dan anggaran belanjanya surplus tiap tahun. Mata uang rubel menguat bukan cuma terhadap dollar, tapi pada mata uang yang sedang perkasa seperti euro. Orang kaya pun bermunculan, pengangguran berkurang drastis.

Ada yang mengatakan kini jumlah milyarder (billionaires) di Rusia sudah lebih banyak dibanding di Amerika. Di bawahnya, kaum milyuner, menurut koran The New York Times tadi, mencapai 88.000 orang, dan merekalah yang menjadi konsumen barang-barang super-mewah itu.

Perbaikan yang dilakukan Putin pada infrastruktur ekonomi menyebabkan produksi minyak dan gas terus naik. Negeri ini sekarang merupakan produsen minyak mentah kedua dunia setelah Arab Saudi. Koran bisnis Inggris, The Financial Times, Agustus tahun lalu, malah menulis bahwa produksi minyak mentah Rusia 9,2 juta barel/hari, sudah lebih tinggi 46.000 barel dibanding Arab Saudi.

Apa yang dilakukan Putin untuk menyulap semua itu? Pertama, ia seorang yang amat berani. Itu dilengkapi pembawaannya yang pendiam, tak pernah terlihat senyum. Dia bekas anggota KGB, badan intelijen Uni Soviet. Tapi ia juga seorang doktor ekonomi dari Saint Petersburg Mining Institute.

Ia pernah mengepalai badan intelijen Rusia FSB (Federal Security Bureau). Tapi namanya mulai dikenal luas saat menjadi Perdana Menteri, 1999, ketika dia berhasil mengamankan pemberontakan Chechnya, daerah mayoritas Muslim yang ingin memisahkan diri dari Rusia. Belakangan pada 2003, hasil referendum di Chechnya, menunjukkan mayoritas rakyat memilih untuk terus bergabung dengan Rusia.

Keberanian Putin terlihat saat ia menciutkan jumlah daerah federal, selain mengurangi kekuasaan otonomi daerah. Lalu sistem pemilihan gubernur diubahnya. Calon gubernur diseleksi kantor Kepresidenan, baru dipilih parlemen daerah (DPRD). Itu mirip model pemilihan kepala daerah di sini di zaman Orde Baru.

LSM-LSM tak boleh hidup dengan dana asing, lalu berita TV dan koran disensor pemerintah. Yang terakhir ini karena kebebasan pers ternyata meresahkan rakyat, sebab media massa dipenuhi berita seks dan kekerasan untuk mengejar tiras. Demonstrasi atau unjuk rasa diperbolehkan, tapi hanya di tempat-tempat tertentu.

Lagu kebangsaan dikembalikan ke zaman Uni Soviet, dengan mengubah syair lagu di sana-sini, disesuaikan kondisi Rusia sekarang. Putin tak mau melupakan sejarah kebesaran Uni Soviet dulu. Berkali-kali dia bilang, ’’Keruntuhan Uni Soviet adalah bencana terbesar abad 20.’’

Itu ada benarnya. Runtuhnya Uni Soviet menyebabkan Amerika menjadi satu-satunya super-power tanpa saingan. Ia dengan leluasa mengebom Afghanistan dan Iraq. Jutaan manusia menjadi korban. Iraq menjadi contoh bencana kemanusiaan terbesar, bagaimana sebuah bangsa dimusnahkan oleh nafsu kolonialisme Amerika, tanpa siapa pun bisa mencegahnya. Kini Amerika mengincar Iran dan Suriah.

Dengan berbagai langkah politiknya Putin terlihat melakukan sentralisasi kekuasaan di tangannya. Padahal rakyat Rusia sudah sempat merasakan kebebasan sistem demokrasi liberal. Nyatanya dia bisa lewati semua itu tanpa gejolak yang berarti.

Sentralisasi kekuasaan malah menyebabkan situasi politik di Rusia stabil. Berbagai keributan dan huru-hara di zaman Yeltsin, rupanya terjadi karena lemahnya pusat kekuasaan di bekas negara komunis yang sudah lebih 70 tahun terbiasa dengan sistem terpusat.

Para penentang Putin, seperti mantan juara catur dunia Garry Kasparov dari kelompok oposisi Other Russia (Rusia Yang Lain), menuduh Putin merusak demokrasi dan mentrapkan sistem otoriter. Para pengamat Barat mengatakan Putin mentrafkan sistem quasi-democracy, separuh demokrasi.

Putin membantahnya. Ia menyebut sistemnya sebagai demokrasi berdaulat (sovereignty democracy). Itulah sebabnya, antara lain, mengapa LSM tak boleh menggunakan dana asing sebab ia hanya akan menjalankan agenda asing, yang akan merusak kedaulatan negara.

Bila demokrasi diukur dari keinginan rakyat, Putin benar dengan sistemnya. Berbagai survei internasional menyimpulkan, rakyat Rusia mendukung kebijakannya.

Tiga staf Carnegie Endowment cabang Moskow, Michael McFaul, Nikolai Petrov dan Andrei Ryabov, mencoba menjelaskan apa yang terjadi, di dalam buku Between Dictatorship And Democracy yang diterbitkan lembaga think-tank itu pada 2004. Di dalam teori, tulis mereka, rakyat Rusia menyukai nilai demokrasi. Tapi pada prakteknya, mereka sangat mentolerir fenomena yang tak demokratis, seperti penyalahgunaan kekuasaan dan pelanggaran HAM.

Bila demikian, mengapa rakyat mendukung demokrasi liberal di tahun 1990-an? Rupanya mereka melihat kemakmuran masyarakat di Barat. Dan itu mereka kira disebabkan sistem demokrasi liberal lebih efisien dibanding sistem komunisme yang mereka pakai waktu itu.

’’Jadi faktor menentukan yang mengubah sikap mayoritas masyarakat ketika itu, adalah motif keuntungan ekonomi, bukan politik,’’ tulis mereka.

Nyatanya sistem yang baru membikin mereka melarat. Maka mereka pun berubah lagi, dan dengan cepat mencampakkan demokrasi liberal. Berdasarkan survei Carnegie Endowment, kini tak sampai 10% rakyat yang masih mendukung sistem demokrasi. [bagian pertama dari dua tulisan]

[Penulis adalah mantan Redaktur GATRA dan TEMPO. Kini, bergabung dengan IPS (Institute for Policy Studies) Jakarta]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: