Alumni Luar Negeri, Aset Siapa?

Republika, Rabu, 20 Februari 2008
Oleh : Erie Sudewo
(Social Entrepreneur)

Karena cuma menghafal nama dan angka tahun, peristiwanya luput dimaknai. Karena tak tahu peristiwanya, benang merah misteri yang membalut peristiwa dari masa ke masa juga sulit disidik. Karena tak bisa disidik, ke mana bergeraknya juga gagal diprediksi. Karena gagal memprediksi, itu tanda berpikir kritis tak dilatih.

Karena tak kritis, salah satu dampaknya anggap sepele sejarah. Karena anggap sepele sejarah, seolah hari esok lepas dari kemarin. Karena tak ada hubungan kemarin dan esok, hari ini kita kebingungan. Karena bingung, jati diri pun lepas.

Karena tak mahfum jati diri, krisis identitas makin parah. Karena krisis identitas, bangsa ini jadi santapan empuk asing. Karena jadi santapan empuk, mudah sekali diakali. Karena mudah diakali, masa depan bangsa ini tergadai. Entah apakah metode hafalan ini strategi kolonial menutupi begitu banyak kekejian dan keculasan mereka. Ya dan tidaknya tergantung sudut pandang. Yang pasti sejarah bukan kumpulan peristiwa tak bermakna.

Ada tonggak-tonggak yang dipahat founding fathers. Itu biduk yang memandu arah masa depan. Memang siapa bilang menggapai cita-cita mudah. Tak ada satu pun bangsa yang berleha-leha lantas sukses. Celakanya, bangsa yang gemar melahap mi instan ini seolah dalam meraih masa depan cukup menyeduh beberapa menit.

Sebagian policy maker kita memang mesti belajar merumus kebijakan. Untuk diri sendiri dan partai, mereka tak usah diajari. Mereka maestro, hingga negara pun rela dilego. Jika strategi jual negara laku dijual, mereka pasti jadi guru besar dunia. Negara ini sudah miskin. Mereka yang menjual negara, kaya-kaya bukan?

Setiap tahun pasti banyak terjadi peristiwa. Kita coba pilah peristiwa yang membuat bangsa ini tak jelas bergerak ke mana. Yang menarik, tahunnya kebetulan berada di sekitar angka tujuh. Lantas sibak di tiap pergantian 10 tahunan. Tapi, camkan, angka 7 dan 10 hanya kebetulan sejarah. Perhatikan saja pada peristiwanya. Lantas telusuri kausalitas makna di baliknya.

Tahun 1957 diam-diam FEUI memulai hubungan dengan Harvard University. Bentuk kerja samanya beasiswa studi. Bagi negara Paman Sam, kerja sama ini amat strategis. Alasannya tentu politik, yang akhirnya mengarah pada ekonomi.

Jangka pendeknya perang dingin antara Rusia dan Amerika sedang hangat-hangatnya, di samping poros Jakarta-Peking sudah dihembus-hembus Soekarno. Jangka menengah mendidik mahasiswa dan pengajar FEUI sebanyak-banyaknya, bukankah langkah besar.

Jangka panjangnya sadar atau tidak, para alumni ini sedang dikader Amerika. Jika 10 atau 20 tahun kelak jadi pejabat, bukankah itu aset? Tapi, aset siapa? Jangan lupa pepatah there is no free lunch bukan tanpa makna. Tahun 1967 Orla baru saja tumbang. Blok Eropa Timur yang dimotori Rusia tertohok. Jakarta-Peking pun dikubur.

Orang-orang Cina di Indonesia resah. Jika ingin selamat, mereka harus beralkulturasi. Sebagian nama Cina pun diubah. KO-nya Blok Timur, kemenangan Blok Barat. Orba pun ditegakkan.

Lirikkan pada Barat, segera terjawab karena kerja sama beasiswa telah hasilkan doktor-doktor ekonomi. Segera di Bappenas dibuat tim yang melibatkan para alumni dan institusi Harvard. Tim ini jadi thingtank pembangunan 25 tahun Indonesia ke depan. Untuk pertama kali era ini ditandai dengan munculnya istilah mafia Berkeley.

Untuk itu Amerika serius kerahkan segala sumber daya. Mengapa? Karena dalam konstelasi politik, Indonesia di masa Soekarno merupakan kekuatan raksasa. Di Asia Tenggara ditakuti. Di Australia amat diperhitungkan. Apa yang dikatakan Soekarno sering mengguncang dunia. Tak heran saat itu sosoknya kerap disejajarkan dengan JF Kennedy dan B Tito (Polandia). Malah Mahathir yang sukses memajukan Malaysia oleh sebagian pihak dianggap ‘Soekarno Kecil’.

Sayangnya seperti yang Richard Nixon katakan: ”Kelemahan Soekarno terletak pada keyakinannya bahwa revolusi belum dan tidak akan pernah selesai”. Artinya, pembangunan tidak hanya dengan pidato retorik, tetapi juga harus dengan bekerja. Tahun 1977 Andi Hakim Nasoetion (IPB) menulis artikel menarik. Saran pertamanya fakultas pertanian di Irian, jangan belajar pertanian sawah. Konsentrasilah pada budidaya sagu. Kedua, bangun pusat-pusat pertukangan di sekitar belantara hutan Kalimantan.

Di Indonesia, saran dari bukan teknokrat telanjur dianggap gangguan. Yang terjadi seluruh fakultas pertanian di Indonesia belajar tentang sawah. Akibatnya, jika tak makan nasi, seolah-olah jadi warga kelas dua. Padahal, kondisi Irian tak layak disawahkan. Kini 220 juta orang Indonesia harus makan nasi. Implikasinya Indonesia jadi negara pengimpor beras terbesar dunia.

Jika saran Andi Hakim Nasoetion digugu, diversifikasi pangan telah terjadi. Usul itu juga bukan hanya mewarisi kearifan lokal, malah bakal menghasilkan produk turunan lainnya. Pusat pertukangan dan sekolah kejuruan perkayuan di Kalimantan pun tak pernah terbangun. Orba lebih suka mencacah hutan dengan membagi-bagi HPH. Jika pusat pertukangan terbangun, Indonesia akan melahirkan banyak ahli pertukangan.

Hutan juga tak akan sekejap gundul karena pertukangan adalah proses jadi profesional. Dengan pertukangan, reboisasi lebih mudah dilakukan. Sementara itu, HPH cenderung mewariskan masalah. Hutan gundul, reboisasi pun akal-akalan. Lingkungan rusak, banjir bandang pun kerap menerjang. Tahun 1987 dalam sebuah seminar di Museum Satria Mandala Jakarta, Dorodjatoen Koentjoro Jakti mengatakan: ”Pada tahun 2.000 nanti akan ada bangsa yang terbukti tak tahu akan dibawa ke mana bangsanya ini.”

Pernyataan ini mengejutkan sebab sangat berseberangan dengan rekan-rekan pengajarnya. Bukankah sobat-sobatnya yang mengarsiteki pembangunan Indonesia? Pernyataan Dorodjatoen menjawab tuntas rumor yang berkembang: Mengapa dia tidak pernah jadi menteri?

Tahun 1997 ucapan Dorodjatoen terbukti. Indonesia dilumat krisis. Diawali dengan moneter, krisis ini terus menebar petaka ke seluruh sektor yang hingga hari ini tak juga siuman.

Akar penyebab diutak atik. Yang dari sekian banyak pendapat, moral buruk dituding jadi biangnya. Moral buruk memang tampak di segenap sisi. Pembangunan selama Orba melahirkan banyak wajah minor. Korup, potong kompas, serba instan, uang pelicin, basa basi, slogan kosong, hingga P4 pun cuma ‘harmoko’, hari-hari omong kosong.

Yang alergi pada mafia Berkeley, menuding kelompok ini punya andil besar meremukkan fondasi perekonomian nasional. Usulan Andi Hakim Nasoetion tak dapat tempat. Bukan hanya mikro, juga amat tak gengsi karena bicara sawah dan pertukangan. Jelang krisis moneter, terjadi dialog opini antara kubu Widjojonomics dan Habibienomics. Habibie pun ditertawai karena membaca clash fow pun diragukan. Lebih-lebih Habibie tawarkan pendidikan yang siap pakai.

Artinya, masuk dalam kelas buruh dan paling banter supervisor. Apa yang dibawa Habibie dan Andi Hakim Nasutioen hanya sektor mikro. Sulit bawa bangsa ini pada kegemilangan. Hasilnya berbagai sekolah kejuruan tutup panggung. STM Pembangunan yang pernah dibanggakan, tak lagi dilirik. SMEA seolah jadi sekolah buangan. Sekolah menengah analis kimia, sayup-sayup sampai. Bahkan, SPG pun mati angin tak punya wibawa apa-apa.

Akhirnya, pada 2007 masyarakat antre minyak tanah. Sebuah fenomena yang hanya layak di zaman kolonial. Antre minyak di atas sumber daya minyak, ini cuma ada di Indonesia. Andai para pemegang kebijakan sesekali bangun sebelum Shubuh untuk antre minyak, mereka pasti bakal memaki pembuat kebijakan.

Hidup ini realistis menjejak bumi. Bukan asyik dengan pendekatan makro, disambut senyum dan tepukan riuh pidato sana sini. Apalagi yang bertepuk tangan hanya segelintir orang, terutama oleh mereka yang asing-asing. Tanpa pesan, penerima beasiswa dapat kesempatan sekolah sebagai anugerah. Karena anugerah, pemberi beasiswa dianggap penjamin masa depan. Karena menganggap dewa, apa pun titahnya dilaksanakan tanpa reserve.

Karena tanpa reserve, apa pun yang diminta diserahkan yang terbaik. Karena yang terbaik diserahkan, hingga perparkiran pun dikelola secure parking. Karena dari parkir hingga eksplorasi sumber daya oleh asing, masa depan negara ini tak jelas ke arah mana. Tanpa pesan, negara ini jatuh.

Mafia Berkeley sebelumnya dituding hanya di satu PT. Kini yang menjabat Menko Ekuin, Menkeu, dan beberapa direktur di Depkeu berasal dari PT yang lain. Soalnya mengapa pendekatan makro tetap jadi fondasi pembangunan?

Ingat there is no free lunch. Tanpa pesan kebangsaan, alumni pendidikan luar negeri telah jadi aset mereka yang asing-asing. Sampai kapan ini disadari?

One Response

  1. Hai met kenal! Blognya bagus!
    Ssst….pingin ngeklik dapat duit??
    Silahkan
    klik di sini!
    dan
    klik di sini!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: