Bang Imad Wafat

Innalilahi wa inna ilaihi rojiun

Sesepuh Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Bandung, Muhammad Imaduddin Abdurrahim, meninggal dunia di kediamannya Jalan Bulak Raya Nomor 33, Klender, Jakarta Timur. Sabtu (2/8) pukul 09.00 WIB.
Bang Imad, panggilan akrab Imaduddin, meninggal dalam usia 77 tahun. Rencananya, jenazah penulis buku Kuliah Tawhid (yang mempengaruhi awal pola pikir saya ttg tawhid) itu akan dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Pondok Kelapa, Jakarta Timur, pukul 16.00 WIB.


Bang Imad lahir pada 3 Zulhijjah 1349H atau 21 April 1931M di kota kecil Langkat, Sumatera Utara. Ia lahir dari pasangan Haji Abdulrahim dan Nyonya Syaifiatul Akmal. Sejak kecil, Imad dididik dalam tradisi keluarga yang patuh dan taat pada ajaran Islam. Selama hidupnya, Bang Imad dikenal aktif berkiprah untuk kepentingan umat Islam. Antara lain, ia tercatat sebagai pendiri Masjid Salman ITB, penggagas berdirinya Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia dan Bank Muamalat. Hingga dua tahun lalu, Bang Imad juga masih aktif di Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia.

Sebelumnya, Doktor Filsafat Tehnik Industri dan Engineering Valuation dari Iowa State University, Ames, Iowa, AS, ini juga pernah aktif di organisasi Islam, seperti Hizbullah, Himpunan Mahasiswa Islam, dan Pemuda Islam Indonesia.

Wawancara Bang Imad dg Hidayatullah sekitar tahun 2000:

Habibie Bilang, Silakan Tembak Saya..atau..
Nopember ini, ICMI (Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia) menggelar
muktamarnya yang ketiga di Jakarta. Banyak yang menilai, hajatan besarnya
kali ini tidak seberuntung ketika Soeharto dan Habibie masih berkuasa.

Di bawah pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, keberadaan ICMI dianggap
meredup, karena tokoh kontroversial itu secara terbuka membenci organisasi
cendekiawan Muslim itu. Salah satu buktinya, ICMI `ditendang’ dari kantor
lamanya di Kebon Sirih oleh dua orang dekat Presiden, Menristek AS Hikam
dan Menag Tolchah Hasan.

Bagaimana kelanjutan kiprah organisasi tempat bermuaranya cendekiawan
Muslim dari berbagai aliran ini? Sahid mewawancarai tokoh yang berperan
besar di balik pendiriannya 11 tahun yang silam. Dr Muhammad `Imaduddin
`Abdurrahim MSc, pendiri ICMI yang pernah dipenjara karena aktivitas
dakwahnya.

Di rumahnya, di kawasan Klender, Jakarta Timur, kepada wartawan Suara
Hidayatullah, lelaki sepuh (69 tahun) yang biasa dipanggil Bang Imad ini
menceritakan kisah-kisah di balik berdirinya ICMI yang belum banyak
diketahui orang.

Misalnya, latar belakang kebencian Gus Dur terhadap ICMI. Upaya Jenderal
LB Moerdani menjegal ICMI. Pandangan-pandangan nya terhadap Habibie. Juga
obsesinya menaikkan Cak Nur sebagai calon Ketua ICMI dan bahkan calon
Presiden 2004.

Dibandingkan tokoh-tokoh lainnya, ustadz yang berguru pada Ismail Raji’
al-Faruqi ini menjadi unik karena hampir tak pernah terjun ke hiruk-pikuk
partai politik. Bahkan di masa rame-ramenya orang bikin partai sekalipun.

Lucunya, selama 14 bulan ia pernah dipenjara karena dianggap membahayakan
kekuasaan rejim Orde Baru. Alhamdulillah, di penjara ia menghasilkan buku
Kuliah Tauhid yang terkenal itu, dan telah dicetak delapan kali.

Minatnya lebih pada dakwah dan pengkaderan. Dalam hal ini, ruang dan waktu
yang dijelajahinya merentang luas sekali. Berbagai tempat di Nusantara,
Malaysia, Amerika, Timur Tengah pernah menjadi basisnya. Sahabatnya ada di
mana-mana. Ia salah satu murid kesayangan Mohammad Natsir, juga guru dari
Anwar Ibrahim.

Ah, mengapa dia tiba-tiba yakin, Anwar akan dibebaskan sebelum bulan
Ramadhan mendatang? Selamat menyimak perjalanan dan renungan-renunganny a.

Bagaimana Anda melihat peran dan posisi ICMI di bawah rejim saat ini?

Nggak apa-apa. ICMI kan jalannya karena Allah. Yang penting ummat Islam
mendukung.

Tapi sejak dulu Abdurrahman Wahid menentang ICMI?

Itu karena dia merasa tidak dilibatkan. Padahal, pertama kali saya
membentuk ICMI di Kota Gede, Yogya (1988), sebetulnya dia mau ikut. Dia
setuju saya tempatkan sebagai salah seorang ketua. Tapi waktu mau
berangkat isterinya sakit. Dia minta maaf tak jadi ikut.

Sayangnya waktu Habibie menentukan kepengurusannya, saya ada tugas ke
Kuala Lumpur sehingga tak sempat beri tahu Gus Dur. Di situ mungkin dia
marah karena tidak diikutkan. Dia mengkritik macam-macam. Sayangnya, oleh
kawan-kawan (yang hadir di Simposium Cendekiawan Muslim) di Malang,
kritik-kritik itu dibalas. Seharusnya memang tidak usah dilayani.

Akhirnya Habibie datang padanya dan minta dia masuk. Terus Gus Dur bilang,
Saya tidak menentang, tapi saya tidak mau masuk. Habibie tetap minta orang
NU ada yang masuk. Akhirnya Gus Dur memberi Dr Muhammad Thohir, orang NU
yang diangkat jadi asisten Habibie. Pak Ud (KH Yusuf Hasyim) dan KH Ali
Yafie yang saya usulkan pun oleh Habibie dimasukkannya.

Di masa Orde Baru, sejak pulang dari Amerika Serikat, Bang Imad mengaku
sering dibuntuti intel. Rapat persiapan pembentukan ICMI di Yogya itu pun
sempat diintai, sehingga akhirnya dibubarkan polisi saat mereka sedang
sarapan pagi.

Anda sendiri dekat dengan Gus Dur?

Saya dengan dia sebetulnya tidak ada apa-apa. Dia baik saja dengan
saya. Saya kenal dia pertama kali ketika dia masih tingkat dua di
Al-Azhar. Saya pulang dari Amerika sehabis mengambil S-2 tahun 1966,
mampir ke Kairo. Nah dia yang jadi guide saya, karena bahasa arabnya
fasih. Dia tahu saya dari HMI. Sampai ICMI terbentuk pun saya masih baik.

Dia memberi kritik, Dengan ICMI ini bagaimanapun Bang Imad sebetulnya
sudah masuk ke lapangan politik walaupun tidak berpolitik.

Waktu itu Anda tidak melihat sentimen lain di belakang sikap Gus Dur?

Saya justru ingin merangkul semua orang sesuai dengan sumpah saya. Waktu
NU keluar dari Masyumi tahun 1948 (saya masih remaja), saya bersumpah,
hanya akan masuk organisasi Islam kalau ia merupakan persatuan seluruh
unsur ummat.

Mungkinkah kebencian Gus Dur terhadap ICMI karena dia dekat dengan Benny
(Moerdani)?

Barangkali begitu alasan dia. Saya tak tahu. Mungkin saja dia diancam
Benny.

Di Balik Layar

Para pengamat cenderung mengatakan, ICMI merupakan alat Soeharto mendekati
Islam. Bagaimana sebenarnya proses berdirinya?

Sepulang dari Amerika saya berdiskusi dengan Aswab Mahasin tentang para
cendikiawan Islam yang saling bermusuhan. Dia bilang, Bang Imad kan yang
masih diterima oleh semua. Satukan mereka.

Dia meyakinkan saya bahwa harus saya sendiri yang menyatukan, karena wadah
cendikiawan Islam yang sudah pernah ada tidak bisa. Tahun 1989 Kebetulan
saya diundang ceramah oleh Universitas Brawijaya. Pulang dari sana
anak-anak Unibraw yang dipimpin Erik Salman almarhum datang kepada saya
dan minta saya pindah ke Malang untuk meramaikan Masjid di sana. Supaya
Unibraw bisa seperti Salman, kata mereka. Waktu itu saya sudah dipecat
dari ITB.

Saya bilang tidak bisa. Kemudian saya kasih saran supaya bikin simposium
yang mengundang Habibie. Mereka setuju tapi minta saya ikut membantu.

Apa pertimbangan Anda menyarankan nama Habibie?

Waktu bulan puasa saya kebetulan baca wawancara dia di majalah Kiblat. Tak
berapa lama di majalah Business Review dia jadi cover story. Di sana dia
dipuji-puji.

Bagaimana Anda bertemu Habibie?

Waktu Hari Raya, saya ke rumah Pak Alamsyah (Ratuprawiranegara, mantan
menteri agama). Saya tanya pada Pak Alamsyah, siapa orang dekat Soeharto
yang kuat komitmennya terhadap Islam dan bisa menyatukan ummat. Waktu saya
tanyakan tentang Emil Salim dia nggak setuju. Begitu juga waktu saya
ajukan Azwar Anas.

Ah, jangan. Orang bodoh bisa kamu bikin pintar, orang miskin bisa kamu
bikin kaya, tapi seseorang walaupun pintar dan kaya namun pengecut tidak
ada gunanya. Apa yang kamu kerjakan ini perjuangan. Jangan diajak berjuang
orang pengecut, katanya.

Saya tanya lagi, Jadi siapa Pak kira-kira orang dekat Soeharto yang ada
komitmen Islamnya? Itu, tuh anak Bugis, Habibie, jawabnya. Saya kan tidak
kenal dia, jawab saya lagi. Nanti saya kenalkan, kata Pak Alamsyah.

Akhirnya anak-anak Malang itu berusaha temui Habibie, tapi nggak bisa
tembus juga. Mereka datang lagi pada saya. Saya sampaikan ini pada Pak
Alamsyah. Terus dia tulis memo di atas kop surat pribadi, dengan tulisan
tangan,Tolong terima Dr `Imaduddin yang ingin ngobrol dengan saudara.

Tapi Salman dan teman-temannya kesulitan juga untuk menyampaikannya ke
Habibie karena ajudannya, Napitupulu, yang Kristen selama ini selalu
mempersulit. Akhirnya saya sarankan supaya mereka cari tahu di mana
Habibie shalat Jumat. Kan ajudannya tak ikut masuk. Rupanya itu
dilaksanakan.

Awal Agustus 1989 waktu Habibie keluar masjid habis Jumat, dikejar oleh
Salman dengan membawa surat Pak Alamsyah. Langsung dipanggil ajudannya
untuk buat janji bertemu. Tulis, hari Kamis tanggal 23 jam 12 saya terima
ini, Dr `Imaduddin, kata Habibie.

Bagaimana suasana pertemuan itu?

Saya membawa Mas Dawam (Rahardjo) bersama empat anak dari Malang
itu. Waktu kami sampai masih ada tamu di ruangannya. Kami tunggu. Lebih
kurang pukul satu kami diterima. Tapi kami disuruh makan dulu.

Waktu mereka pergi makan, saya tidak ikut karena puasa. Dia bilang, saya
juga puasa. Nah kesempatan berduaan itulah saya `hantam’ dia. Sebab,
tadinya waktu ngobrol ramai-ramai kami tidak diberinya kesempatan. Hanya
dia saja yang ngomong. Setelah mereka pergi makan saya masukkan ayat-ayat
Quran, tak-tak-tak. Dia diam saja.

Kalimat saya tidak putus, tak saya beri dia kesempatan ngomong. Saya pikir
waktu itu, dia ini memang harus dibombardir terus. Saya katakan, Ummat ini
sudah dipinggirkan. Kalau Saudara tidak membela, tidak ada yang lain yang
bisa membela, karena Saudara punya kapasitas. Saya meminta dia memimpin
organisasi cendikiawan yang mau dibuat dalam simposium itu.

Akhirnya dia bilang, Saya mau, saya mau, memang saya bertanggung jawab
untuk ummat ini. Tapi kami disuruhnya dulu membuat proposal untuk
disampaikan kepada presiden, karena dia merasa sebagai pembantu presiden
tidak bisa memegang jabatan di luar tanpa ijin presiden.

Saya kan lebih tua dari dia. Dia panggil saya Bapak. Katanya, Curahkan apa
yang Bapak sampaikan ini dalam surat, dengan usul saya sebagai ketua
organisasi ini. Tapi saya minta dukungan sedikitnya 20 tandatangan
cendikiawan Muslim yang S-3 termasuk Cak Nur (Nurcholish Madjid).

Saya buatlah surat itu dengan beberapa kali perubahan. Baru setelah itu
saya cari tandatangan. Ketika didatangi para mahasiswa, Cak Nur tadinya
nggak mau tanda tangan karena rencana itu berbau politik. Dia tanya pada
saya di telepon, siapa di belakang ini. Saya bilang, saya yang ada di
belakang proyek ini. Akhirnya dia mau ha..ha..ha.. . Setelah Cak Nur,
barulah terakhir saya tanda tangan. Alhamdulillah terkumpul 49
tandatangan, 43 diantaranya S-3.

Jadi gagasan awal berdirinya ICMI berasal dari Anda ya?

Saya memang yang memberi tugas kepada anak-anak Malang itu supaya
mengadakan simposium di Unibraw yang mengupas tentang sumbangsih
Cendikiawan muslim dalam menghadapi tantangan abad ke-21.

Waktu itu key note speaker-nya saya suruh anak-anak untuk minta Habibie
saja. Rencana saya, sesudah dia bicara di simposium itu, pada session
berikutnya saya akan membakar apa yang dikatakan Habibie dengan menegaskan
pentingnya para cendekiawan Islam bersatu dan mengkampanyekan bahwa dialah
yang tepat untuk memimpin wadah cendekiawan Muslim itu.

Tapi Habibie minta pernyataan dukungan itu untuk disampaikan kepada
Soeharto. Alhamdulillah, Soeharto juga mendukung, bahkan dia mau membiayai
simposium itu. Dia juga bilang bersedia membuka acara itu.

Rupanya Benny Moerdani ketakutan. Tanggal 6 Desember, hari Kamis tahun
1990, jam 7 pagi acara mau dibuka dan Soeharto akan sampai pakai
helikopter dari Surabaya ke Malang. Tapi sampai malamnya, Kapolda Jatim
belum kasih surat jaminan keamanan Soeharto sesuai undang-undang.

Rapat panitia sampai jam 12 malam belum ada keputusan. Malam itu kaki
tangan Benny, entah kolonel siapa namanya, berusaha membujuk Habibie
supaya acara itu digagalkan dengan alasan sektarian. Sampai jam 12 malam,
Habibie jengkel dengan orang itu, akhirnya keluarlah Bugisnya, `’Silakan
tembak saya di tempat, kalau tidak maka saya akan teruskan program ini.”

Orang itu akhirnya mundur. Akhirnya jam dua pagi Habibie menelpon Kapolri,
Pak (Jenderal) M Sanusi di Jakarta, minta jaminan keamanan bagi
Soeharto. Nah Kapolri lalu menelpon Kapolda, perintahkan keamanan untuk
Soeharto. Itulah sebabnya Benny menganggap saya The Most Dangerous
Man. Itu dikatakannya kepada William Liddle, ahli politik Indonesia. Si
Liddle yang bilang pada saya.

Karena peran dan jasanya yang dianggap cukup besar, baik dalam dakwah
maupun pendirian ICMI, tahun 1999 pengagum Umar bin Khatab itu pernah
dianugerahi Bintang Mahaputra Adhipradana oleh Habibie, presiden RI ketika
itu.

Apa yang ada di benak Soeharto ketika itu sampai dia mau mendukung acara
tersebut?

Yang saya tahu Habibie itu sangat dekat dengan Soeharto. Kalau dia datang,
itu bicaranya tidak satu jam, tapi bisa tiga jam, karena dia sudah
dianggapnya anak oleh Soeharto.

Ketika ICMI sedang jaya, Anda pernah berhubungan dengan Soeharto?

Tidak. Tapi kata Habibie, Soeharto yang minta saya mewakili ICMI menjadi
ketua di IIFTIHAR (International Islamic Federation for Technology and
Human Resource Developent).

ICMI dulu tidak bisa menghindar dari permainan politik yang dilakukan
orang-orang di dalamnya. Bisa Anda jelaskan?

Waktu itu, Habibie selain pemerintah juga kan pembina Golkar. Jadi
kecintaannya kepada Islam membuatnya ingin memajukan pemimpin dari
kalangan Islam di tubuh Golkar.

Dia beralasan, kalau 90 persen Islam, maka 90 persen juga yang memegang
jabatan. Ketika Frans Seda tidak setuju, dia bilang, Katanya
demokrasi. Sumarlin juga pernah marah sama dia karena begitu. Pernah dia
mengirim orang IPTN untuk beasiswa ke Al-Azhar. Alasan dia, IPTN kan
banyak buruhnya muslim, mereka butuh pembimbing agama Indonesia. Ini bukan
uang pemerintah, tapi uang saya pribadi, dia bilang begitu.

Pencalonan Cak Nur

Sejak Habibie jatuh, ICMI terkena dampaknya, perannya pun makin surut. Apa
rencana Anda ke depan?

Saya mengharapkan, kalau berhasil, kongres ICMI tanggal 9-12 November
nanti, saya akan mulai kampanye supaya Cak Nur terpilih jadi ketua ICMI
yang baru. Tak bisa disangkal, di Indonesia ini dia yang paling
alim. Kalau dia yang jadi, dia suruh saya apa saja, nggak usah kasih saya
jabatan, kerja saja, saya mau, dalam rangka mencetak kader-kader baru yang
akan kita lempar di pasar politik. Terserah mereka mau ikut di partai
mana.

Apakah dia bersedia?

Saya berkesempatan ngomong sama dia Mei kemarin. Kami ditakdirkan Tuhan
dua hari dua malam bersama-sama di Taipei dalam satu undangan yang
sama. Karena hotelnya sama kami ke mana-mana selalu bersama.

Sepanjang itulah saya jejalkan dia, You harus siap. Dia menolak karena
katanya akan ada orang yang tidak suka. Saya bilang, orang yang nggak suka
itu urusan saya, yang penting kan kita mencari ridha Allah. Apa you tega,
nanti ummat ini jadi hancur. Tidak ada pemimpin seperti you. Yang pandai
banyak, tapi yang ikhlas itu you contohnya.

Akhirnya karena saya keluarkan ayat-ayat dan hadits nggak berkutik
dia. You jadi ketua ICMI. Konsentrasi mencetak kader selama empat tahun
ini. Tahun 2004 angkat saya jadi manajer kampanye. Saya akan kampanye
supaya you jadi presiden. (Bang Imad tersenyum)

Katanya, Ah Bang Imad ini, ada-ada saja.

Sudah, jangan bantah, ini demi rakyat, saya bisa baca hati rakyat, Saya
bilang begitu dia diam saja.

Tapi kan sudah ada pernyataan dari sejumlah pengurus ICMI, bahwa Habibie
masih pantas memimpin?

Iya, tapi dianya nggak mau. Pulang ke sini saja masih belum mau. Dia masih
di Jerman. Dia itu orang cerdas dan ikhlas. Jarang ada kecerdasan otak dan
keikhlasan hati bisa bertemu di satu pribadi.

Waktu pemilihan Wakil Presiden tahun 1997, yang meyakinkan supaya dia mau
dicalonkan Soeharto itu kebetulan saya. Sejak tahun 1996 saya sudah mulai
meyakinkan dia. Lebih khusus lagi ketika sama-sama dari Jeddah, sepuluh
jam dia berdiskusi sama saya.

Wajib hukumnya, berdosa kalau you tolak, rakyat sudah menghendaki, kata
saya.

Saya sudah sangat dekat dengan dia waktu itu.

Kemudian waktu saya dibawanya ke Brunei, pulang pergi lima jam saya charge
lagi dia. Terus dia bilang, Bagaimana kata Tuhan lah nanti. Saya bilang
lagi, Kalau rakyat menghendaki, Tuhan menghendaki.

Dipenjara

Bagaimana awalnya hingga Anda bisa masuk penjara?

Saya melakukan aksi pengkaderan dengan menggelar training-training dakwah
di Salman. Saya pulang dari Malaysia kan akhir 1973. Awal 74-nya saya
mulai mengadakan LMD (Latihan Mujahid Dakwah). Semua fasilitas Salman saya
manfaatkan betul-betul. Hampir tiap bulan selalu ada training.

Bang Imad pernah dipinjam dari ITB oleh pemerintah Malaysia pada 1971-1973
untuk membangun pendidikan tinggi di sana, karena ketika itu Perguruan
Tinggi di Malaysia hanya setingkat D3. Kerja sama itu terjadi secara
kebetulan, yakni ketika Dirjen Perguruan Tinggi Malaysia ketika itu, Datuk
Hamzah terkesan dengan khutbah Jumat yang disampaikan Bang Imad di Salman.

Padahal tidak ada gerakan politiknya, tapi mengapa Anda dianggap berbahaya
hingga akhirnya ditangkap dan dipenjara?

Ini kan karena Soedomo dan Benny yang tidak suka Islam.

Sepulangnya dari Amerika tahun 1966, Bang Imad diangkat jadi Ketua Lembaga
Dakwah Mahasiswa Islam di PB HMI. Di situlah ia menjadi sangat dekat
dengan Ketuanya Nurcholish Madjid, dan banyak berkeliling Indonesia untuk
memberi training dakwah.

Setelah selesai dari HMI tahun 1969, ia diangkat menjadi imam di masjid
Salman ITB. Waktu itu Salman sudah mulai berbentuk. Sejak itulah Bang Imad
mempergunakan masjid itu sebagai basis pengkaderan. Cuma bedanya, kalau di
HMI namanya LKD, Latihan Kader Dakwah, di Salman namanya LMD, Latihan
Mujahid Dakwah.

Oleh rejim militer waktu itu, rupanya kegiatan Bang `Imad dianggap
mengancam kekuasaan. Maka ia dipenjara tanpa proses pengadilan dari Mei
1978 sampai Juli 1979 di LP Nirbaya. Ia pun sampai harus dipecat dari
ITB. Penahanannya jadi berita sampul di majalah IMPACT International
terbitan London, waktu itu.

Baik pemenjaraan maupun pemecatannya tak pernah punya alasan yang jelas
hingga hari ini. Jaksa pun menurut Bang Imad sampai bingung membuat
dakwaan. Tapi menurutnya bisa jadi karena ceramah-ceramahnya yang sangat
keras terhadap Soeharto serta yang membangkitkan semangat anti-dominasi
ekonomi Cina dan Kristenisasi. Saya memang sempat menyebut Soeharto
Fir’aun, katanya. Yang unik, julukan itu disematkan kepada Soeharto karena
ia berhasil menyusup ke makam yang disiapkan Soeharto untuk diri dan
keluarganya di Imogiri. Areal pemakaman berharga ratusan juta itu, dengan
tiang berlapis emas, difoto oleh Bang Imad, dan tersebar di majalah
ITB. Yang bikin makam sebelum mati kan Fir’aun, tuturnya. Ia akhirnya
dibebaskan, setelah rektor ITB waktu itu Prof Doddy Tisna Amidjaja memberi
jaminan.

Bagaimana reaksi sesama aktivis dan tokoh-tokoh Islam waktu itu?

Nggak ada itu. Semua pada ketakutan. Hanya Pak Natsir yang mengirim surat
ke luar negeri sehingga banyak dukungan bagi saya dari luar, Saudi,
Hongkong, Inggris, Amerika, Australia. Media-media muslim di sana ikut
merespon penangkapan saya.

Bagaimana perasaan Anda saat dipenjara?

Mulanya saya sempat kesal juga, tapi namanya juga perjuangan.

Apa saja kegiatan Anda selama di penjara?

Saya menulis buku Kuliah Tauhid. Saya banyak menghafal ayat-ayat
Quran. Setiap hari saya baca Quran satu juz berikut tafsirnya. Saya juga
bergaul dengan napol seperti Subandrio. Dia malah belajar Islam dengan
saya selama setahun.

Kegiatan pengkaderan menjadi concern Bang Imad sejak dulu, karena ia yakin
hal itu lebih besar pengaruhnya ketimbang aksi jangka pendek. Keyakinan
itu, akunya, diperoleh dari nasihat mantan Wapres RI pertama, Mohammad
Hatta yang pernah memanggilnya bersama sejumlah pemuda Islam.

Saya fanatik pada pesan almarhum Pak Hatta, bahwa perjuangan yang
seharusnya adalah dengan pendidikan. Pesan itu disampaikan langsung ketika
saya baru lulus ITB, kata anggota Pengurus Pusat Dewan Dakwah Islamiyah
Indonesia (DDII) ini. Sekeluar dari penjara tidak ada universitas negeri
yang berani mengundang Bang Imad. Unibraw-lah yang pertama kali
mengundang. UI pun pernah mengundang tiba-tiba dibatalkan oleh almarhum
Prof Daud Ali. Ceramah di Unibraw itulah yang kemudian menjadi titik awal
perjuangan berikutnya dengan mendirikan ICMI.

Dinasihati Bung Hatta

Bagaimana isi pesan Bung Hatta itu?

Beliau bilang, `’Jangan dibayangkan kita ini seperti Amerika dan Eropa
Barat. Mereka itu kan sudah ratusan tahun merdeka. Kita kan baru tujuh
belas tahun. Rakyat kita masih banyak yang buta huruf, terutama orang
Islamnya, karena dibikin bodoh oleh Belanda. Rakyat ini belum tahu apa
kewajiban dan haknya.

Kata Bung Hatta, selama rakyat belum tahu hak dan kewajibannya kita tidak
bisa berdemokrasi. Oleh karena itu yang dibutuhkan sekarang adalah
bagaimana mendidiknya supaya mengerti hak dan tanggung jawabnya.

Saya dengar kalian mau bikin masjid di ITB. Saya gembira, itulah yang saya
mau, karena kita membutuhkan pemimpin yang jujur, bertaqwa dan ikhlas.”
Pesan Bung Hatta itu saya pegang betul.

Bagaimana Anda bisa bertemu Pak Hatta?

Dia yang minta. Tahun 1962, ketika saya baru jadi dosen, suatu hari saya
ditelepon oleh Pak Kasoem, pemilik pabrik kaca mata yang sekarang
diteruskan anaknya, Lily Kasoem. Saya diminta mengumpulkan sejumlah pemuda
Islam. Katanya, Pak Hatta, yang waktu itu baru berhenti dari jabatannya
Wakil Presiden, mau ketemu.

Datanglah kami waktu itu bertujuh, termasuk Hussein Umar dari PII,
dijemput pakai minibis ke Ujung Berung, tempat peristirahatan Pak
Hatta. Saya duduk berdekatan dengan beliau. Tiba-tiba Pak Kasoem menunjuk
saya jadi juru bicara. Langsung saya diberi kesempatan pertama bicara.

Orang Medan kan nggak kenal basa-basi. Saya ngomong langsung, `’Kami
pemuda Islam sangat kecewa kepada Bapak.” `’Kenapa,” kata Pak
Hatta. `’Kami anggap Bapak tidak bertanggung jawab karena Bapak
meninggalkan kursi wapres. Padahal semua tahu, kalau Soekarno itu tidak
mau mendengar siapapun kecuali Bapak. Sekarang setelah Bapak tinggalkan,
Soekarno merajalela. Negara jadi begini, begitu kata saya.

Saya pikir dia marah, nggak tahunya dia malah senyum-senyum. `’Saya bangga
kalian ngerti juga politik, tandanya kalian peduli dengan nasib bangsa,”
katanya. Baru setelah itu beliau menyampaikan pesan tadi.

Apa jawaban Bung Hatta pada kekecewaan itu?

Kata Bung Hatta, `’Nggak bisa cocok saya dengan Soekarno. Biar saya beri
dia kesempatan, mau diapakan negara ini.” Kemudian saya bantah
lagi,”Tapi kan sekarang Soekarno jadi diktator.”

Dia bilang lagi, `’Itu karena rakyatnya masih bodoh. Dia akan berubah
kalau rakyat bisa kalian didik. Jadi tugas kalian sekarang adalah
bagaimana mendidik rakyat. Satukan ummat ini dengan kecerdasan yang
memadai. Jadi jangan ke politik dulu sekarang ini, tapi melatih dan
mendidik dulu.” Ucapan Pak Hatta ini merasuk ke dalam otak dan hati
saya. Itu yang saya pegang.

Puluhan tahun Bang Imad melakukan kaderisasi formal dan informal di
kalangan pemuda, khususnya di Masjid Salman ITB. Kaderisasi itu banyak
diminati para mahasiswa hingga mempengaruhi perkembangan dakwah di
berbagai kampus lainnya di Indonesia saat itu. Sebabnya adalah, visi
dakwah Bang Imad banyak difokuskan pada pembentukan Tauhid sehingga banyak
melahirkan kader-kader militan.

Kuliah Tauhid

Visi pengkaderan yang Anda lakukan sangat kental fokusnya pada tauhid. Apa
latar belakangnya?

Rasulullah 23 tahun berdakwah, 13 tahunnya konsentrasi pada tauhid. Ini
pegangan saya. Makanya saya yakin, orang yang belum beres tauhidnya masuk
ke politik, dia akan goyang.

Selain itu ayah kan tamatan Al-Azhar. Sejak saya kecil, dia selalu
menekankan masalah tauhid kepada saya. Sementara, kalau soal fiqih akan
dijelaskan kalau ditanya saja. Menurut dia, tauhid itu yang bisa membentuk
pribadi. Saya pun yakin dengan doktrin ini.

Karena visi dakwah tersebut, oleh Mahathir Bang Imad pernah dikontrak
sejak 1987-1994 untuk membangun etos kerja para pejabat Malaysia dengan
memberikan pembekalan tauhid. Dalam pandangannya, bagaimana seseorang
bertauhid bisa dilihat dari urusan terbesar, seperti mengatur negara,
sampai yang kecil-kecil seperti soal rokok.

Anda mengharamkan rokok. Kenapa?

Coba, ilah itu apa artinya? Ada berapa kali perkataan ilah dalam
al-Quran? Saya sudah hitung, semuanya ada 147 kali, baik yang mufrad
maupun yang jamak. Dan artinya macam-macam, dari yang kongkrit sampai yang
abstrak.

Contoh yang abstrak adalah orang yang meng-ilah-kan hawa
nafsunya. Afaraayta manittakhadza ilaahahu hawaahu. Hawa terhadap rokok
juga bisa jadi ilah. Sesuatu yang mengikat kita itulah ilah. Orang yang
mengerti Laa ilaaha illallah tidak akan mau dipengaruhi dan diikat oleh
siapapun dan apapun, termasuk oleh rokok.

Meski anti rokok, interaksi Bang Imad dengan kawan-kawannya yang perokok
tetap baik. Mereka sangat menghargai prinsip Bang Imad itu. Sebagai contoh
adalah AM Saefuddin, sahabat dekatnya di Dewan Dakwah. Kabarnya, bekas
menteri yang perokok berat itu segan merokok di depan Bang Imad.

Selain soal rokok, pemahaman tentang Tauhid membuat Anda menjadi kritis
terhadap penguasa ya?

Dulu Soeharto kan memper-ilah dirinya, sama seperti Fir’aun. Itu sudah
syirik.

Kabarnya sesudah di penjara Anda mengaku belajar dan mulai mengubah
pendekatan terhadap Soeharto?

Saya menyadari akhirnya, bahwa yang melawan Namruj kan Ibrahim. Ibrahim
itu anak siapa? Dia anak Azar, tangan kanannya Namruj. Jadi orang Istana
juga yang menjatuhkannya. Begitu juga dengan Fir’aun yang dijatuhkan
Musa. Musa kan sejak bayi dibesarkan di Istana Fir’aun. Orang dalam
juga. Kemudian saya mencoba mencari figur di rejim Orba yang bisa membawa
perubahan. Muncullah Habibie melalui ICMI yang saya dirikan bersama
teman-teman itu.

Tak Berpolitik

Selama ini Anda paling konsisten untuk tidak bergabung di partai
politik. Mengapa?

Saya menganggap politik praktis itu tidak mungkin dijalankan oleh orang
yang tauhidnya belum beres, karena yang akan mereka cari kan kedudukan,
bukan kebenaran.

Dulu waktu Masyumi pecah, NU keluar tahun 48, waktu itu saya mau naik
kelas III (SMU), saya bersumpah, Demi Allah saya tidak akan bergabung
dengan satu partai pun, sebelum partai Islam bersatu. Saya hanya memegang
ini saja. Padahal Masyumi adalah satu-satunya partai Islam waktu itu.

Dalam berorganisasi pun saya sempat kecewa. Ketika SMP dan SMA kan saya di
PII. Di ITB saya di HMI. Waktu itu saya gembira sekali karena organisasi
mahasiswa Islam cuma satu. Sampai ketika tahun 60-an, saya lupa persisnya,
Mahbub Junaedi dari NU, keluar dari HMI dan mendirikan PMII (Pergerakan
Mahasiswa Islam Indonesia).

Padahal waktu itu dia wakil ketua di PB HMI. Saya kecewa sekali, tapi
bagaimana lagi. Nah saya baru berorganisasi lagi di ICMI. Di ICMI saya
berbahagia, karena ada semua, tokoh NU masuk, Muhammadiyah dan lain-lain.

Bang Imad juga pernah masuk Hizbullah, laskar rakyat bentukan
Masyumi. Karenanya ia pernah dilatih jadi tentara sampai mendapat pangkat
sersan satu. Ia sempat juga bergerilya melawan Belanda, Tapi yang berhasil
ketika mencuri senjata Jepang, kata pria berkaca mata ini.

Menjelang Pemilu 1992, Pak Natsir, pernah berfatwa untuk mendukung
PPP. Mengapa Anda tidak menganggap itu sebagai instruksi?

Waktu itu PPP tidak jelas, karena masih mengekor kepada
Soeharto. Sementara saya orangnya tidak bisa begitu. Itu watak dan
keyakinan saya, terserah orang suka atau tidak.

Saya berpegang pada hadist Nabi, `’Kami tidak akan memberikan jabatan
kepada orang yang menginginkan jabatan itu.” Ada juga hadits Qudsi yang
mengatakan, `’Kalau engkau menerima jabatan karena dipaksa maka Aku akan
mendampingi engkau. Tapi kalau engkau menerima jabatan karena engkau
menginginkannya, maka aku akan biarkan engkau sendirian dengan jabatan
itu.”

Jadi saya takut sekali. Kalau dipaksakan, oke saya terima. Kalau misalnya
Pemilu nanti rakyat memilih saya langsung jadi presiden, mengapa
tidak. Tapi seperti saya bilang tadi sekarang ini saya sedang giat
mempromosikan Cak Nur jadi presiden, walaupun tidak lewat lapangan
politik.

Mengapa Cak Nur?

Dia orang ikhlas dan pengetahuannya dalam. Saya tidak melihat orang yang
lebih baik dari dia.

Usia Anda sekarang 69. Tahun 2004 nanti apakah Anda masih sanggup menjadi
manajer kampanye Cak Nur?

Kalau sehat, Insya Allah. Kalau untuk dia saya akan mendukung terus.

Bang Imad pernah mengalami sakit parah sejak Juli 1997 sampai Oktober
1998. Saat itu jantungnya harus dioperasi. Karenanya, Saya hanya bisa
menyaksikan kejatuhan Soeharto melalui TV saja.

Soeharto dan Anwar Ibrahim

Tentang pengadilan Soeharto, sebagai orang yang pernah dianggap musuhnya,
bagaimana sikap Anda?

Anaknya saja yang dibicarakan. Kasih hukuman yang berat. Yang penting
sebetulnya kembalikan uang milik rakyat itu. Kan tidak sedikit itu, 30
miliar dolar (menurut majalah Forbes 45 miliar dolar). Kembali separohnya
saja sudah untung betul. Anggaran belanja kita kan tidak sampai
segitu. Kalau dia mau mengembalikan itu, sudahlah maafkan saja.

Tapi, maaf juga kan harus lewat proses pengadilan?

Diadili juga tidak bisa. Mau apa lagi. Dokter bilang dia sudah permanen
sakit.

Ngomong-ngomong, sebagai orang yang dekat dengan Anwar, bagaimana kondisi
terakhirnya?

Berbagai cara sudah kita lakukan supaya dia bebas. Ada yang mengajak cara
spiritual dengan doa bersama juga saya tempuh. Karena ada hadits
Rasulullah Saw, kalau 40 orang berdoa dengan permintaan yang sama, insya
Allah diijabah.

Ada seorang kiai yang mengerahkan 40 santrinya untuk berdoa bagi kebebasan
Anwar. Tiga hari yang lalu saya ditelpon, insya Allah sebelum puasa bebas
dia. Itu kekuatan doa.

Semangat Jihad

Latar belakang Anda adalah ilmu elektronika. Dari mana Anda belajar agama?

Sejak kecil setiap habis subuh ayah mengajarkan Quran dan tafsirnya. Dari
surat al-Fatihah sampai tiga puluh juz. Itu sedemikian kuat tertanam,
tidak lupa sampai sekarang, Alhamdulillah. Itulah bekal saya berdakwah dan
berjihad.

H Abdul Rahim Abdullah, ayah kandung Bang Imad adalah seorang ulama
tamatan Al-Azhar yang pernah diangkat dan diasuh oleh mufti kesultanan
Langkat. Ibunya, Syaifatul Akmal, adalah cucu Sekretaris Sultan Langkat
yang pernah menjadi murid ayahnya sebelum dikawini. Darah keulamaan itulah
yang menurun kepada Bang Imad, anak kelima dari sembilan bersaudara.

Apa yang membuat Anda sangat bersemangat dalam dakwah dan jihad?

Dulu kisah perang Uhud sering diceritakan ayah saya. Dalam perang itu ada
remaja yang turut berjihad di usia belia dan berhasil meraih syahid. Bagi
saya cerita itu sangat mendalam pengaruhnya. Jadi saya ingin seperti itu
waktu itu. Apalagi kondisi waktu saya kecil, memang memungkinkan saya
punya semangat itu.

Sesudah Proklamasi, Belanda merebut kampung kami di Tanjungpura. Ayah saya
sebagai ketua Masyumi jadi incaran Belanda. Sehingga kami semua lari masuk
hutan, dekat pinggir laut. Selama seminggu kami bersembunyi hanya makan
nangka muda, daun pakis dan buah nipah. Mana sedang bulan puasa. Sejak itu
semangat juang saya terbentuk.

Sampai-sampai karena ingin ikut berjuang, di Hizbullah saya berbohong
tentang umur saya ketika mendaftar. Waktu ditanya saya bilang, `’tujuh
belas”. Padahal umur saya baru lima belas. Saya pikir, kan ketua
Masyuminya ayah saya. Akhirnya saya diterima.

Tapi ketika dia tahu saya masuk Hizbullah dengan berbohong, dia tidak
marah. Justru dia malah tersenyum dan membiarkan saya ikut. Padahal dia
orangnya keras sekali. Itu pertama kali seumur hidup, saya berbohong tapi
tidak dimarahi.

Selain ayah, siapa guru yang waktu itu berpengaruh juga?

Ada yang berkesan saat itu. Sepulang gerilya saya ditanya oleh guru
saya. Abdullah namanya. `’Mau apa kamu ikut perang”. `’Mau merdeka,”
kata saya. `’Kalau sudah merdeka nanti, yang begini tidak perlu lagi. Yang
diperlukan nanti adalah insinyur yang bisa membangun negara,” katanya.

Sejak itu saya balik lagi untuk sekolah. Guru yang mengajar tinggal dua
orang, salah satunya Pak Abdullah tadi. Yang lain keterusan jadi
tentara. Makanya saya sempat diminta mengajar kelas di bawah saya. Itu
pengalaman pertama saya mengajar.

Sejak kecil bakat kecerdasan Bang Imad memang sangat menonjol, terutama di
bidang eksakta. Ketika pertama kali datang ke Jakarta, setelah lulus dari
SMA Negeri Langkat, tahun 1953, ia langsung diberi beasiswa oleh
Departemen Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan untuk belajar di ITB
karena angka di rapornya rata-rata delapan dan sembilan. Pria yang lahir
21 April 1931 itu lulus ITB tahun 1961 dan pada Januari tahun berikutnya
oleh profesornya, Tubagus Sulaiman ia langsung diminta mengajar di
ITB. Padahal ia baru diwisuda bulan April.

Yang unik, di almamaternya itu, ia justru diminta mengajar kuliah agama
Islam bukan Teknik Elektro, jurusan yang diambilnya ketika kuliah. Itu
karena latar belakangnya yang HMI dianggap layak. Apalagi mata kuliah
(MK) yang dipelopori oleh dekannya itu ditetapkan menjadi MK wajib seluruh
perguruan tinggi di Indonesia oleh Menteri PPK waktu itu, Prof. Thayib
Hadiwidjaja. Karena keenceran otaknya juga, takdir Allah di tahun 1963,
Bang Imad mendapat beasiswa dari pemerintah untuk meneruskan belajar di
bidang Elektro Arus Kuat di IOWA State University.

Begitu pula sekeluar dari penjara, tahun 1980, mendapat beasiswa dari
pemerintah Arab Saudi untuk mengambil gelar doktor di universitas yang
sama. Sayangnya, ketika selesai S-3, tahun 1984 ia dilarang pulang oleh
Pak Natsir karena meledaknya Peristiwa Priok.

Keluarga

Anda menikah lagi diusia senja. Apa motivasinya?

Sebetulnya, ceritanya tidak sengaja. Dimulai ketika saya sedang membantu
seorang anak gadis yang baru lulus SMA dan ingin mencari beasiswa ke
Malaysia.

Waktu itu dia sempat mengadukan keadaannya setelah ditinggal ayahnya
sambil menangis. Saya pun terharu, karena teringat mendiang ayah dan ibu
saya yang yatim ketika kecil.

Apalagi saya berpikir, kalau saya mengurus orang yang bukan muhrim saya,
apa kata orang nanti. Jadi untuk menjaga fitnah saya memutuskan untuk
menikahi ibunya. Jadi ini tidak semata-mata pertimbangan biologis. Usia
saya waktu itu kan sudah 65 tahun.

Bang Imad juga tidak ingin gegabah dalam mengambil keputusan itu. Karena
itu, sebelumnya ia minta pertimbangan dari sahabatnya, Prof Ali Yafie dan
Dr Sugiat.

Baru kemudian keputusan itu direalisasikan pada 4 Agustus 1996, ia
menikahi Leila Cutsiah, janda beranak empat yang kini sudah memberinya
seorang putra, Muhammad Umar Imaduddin (3,5).

Saya ingin dia jadi Umar abad 21, tandas ayah yang lebih tampak seperti
kakek dari anak kesayangannya itu. Umar, yang ketika ditemui Sahid tampak
lincah dan cerdas itu, bagi Bang Imad memang melengkapi kebahagiaan
bersama tiga anaknya yang didapat dari istri pertama, Siti Amanah.

Dari istri yang dinikahinya tahun 1967 itu ia dikaruniai Nur Halisah MBA,
Ir. Sakinah, dan Rahimah MA yang tinggal di Cijantung. Di hari tuanya
kini, Bang Imad selain aktif di DDII, ia juga masih memimpin Yaasin
(Yayasan Pembina Sari Insan), sebuah lembaga pengembangan dan manajemen
sumberdaya manusia di Jakarta.

Mudah-mudahan di hari tuanya yang lebih senggang, Bang `Imad sempat
merenungi kekurangan-kekurang annya di masa lalu, dan menghasilkan kader
dakwah lebih banyak lagi. Amien.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: