6 Steps Reframing Bagi Kesehatan

Sumber: www.ronnyfr.com
Pada suatu saat mungkin anda mengalami simptom tubuh yang amat mengganggu, dan Anda tidak suka. Pada kondisi ini biasanya kita ingin menghentikannya, misal rasa amat ngilu pada saat sakit gigi, dan lain-lain. Nah, seringkali kita ingin segera menghilangkan sakit ngilu itu dengan cara minum obat penghilang nyeri. Namun sebenarnya ini sangat tidak bijaksana, karena bisa diibaratkan seperti mematikan alarm kebakaran tanpa memadamkan kebakaran itu sendiri. Lho kok?
Begitu rasa ngilu itu hilang, maka kita lantas tenang dan kembali beraktivitas. Jika ngilu itu datang lagi, maka akan segera minum obat penghilang nyeri tadi, agar ngilunya segera lenyap. Sungguh suatu kesalahpahaman yang amat besar, umumnya masyarakat tidak bisa membedakan antara ‘rasa ngilu’ dan ’sakit gigi’. Kita perlu mengerti bahwa ‘rasa ngilu’ berbeda dengan ’sakit gigi’ itu sendiri.

Salah satu presuposisi NLP mengatakan bahwa: “Seluruh tindakan memiliki maksud yang positif”. Jadi jika tubuh kita melakukan suatu tindakan, yang mungkin menurut kita adalah masalah, namun sebenarnya tubuh kita bermaksud positif. Misal, rasa ngilu pada saat sakit gigi bagi kita adalah masalah. Padahal sebenarnya tubuh bermaksud positif kepada kita. Tubuh ingin menginformasikan bahwa ada hal yang tidak beres pada gigi kita bahwa ada penyakit atau masalah pada gigi / gusi kita.

Dengan cara memberikan rasa ngilu itu, maka kita menjadi tahu bahwa “ada masalah dalam gigi atau gusi kita”. Semakin kuat rasa ngilu itu, semakin besar niat positif tubuh memberi tahu betapa masalah pada gigi kita adalah masalah yang besar!

Nah, jika niat baik itu kita basmi dengan obat penghilang rasa ngilu tasi, berarti kita tidak merespek niat baik dari tubuh kita, bahkan cenderung “membunuh” kemampuan tubuh dalam memberikan alarm saat ada bahaya seperti itu.

Bayangkan situasinya begini, Anda menitipkan rumah pada seorang Satpam supaya diawasi. Namun setiap Satpam tersebut memberi tahu ada bahaya yang mungkin mengancam, Anda malah membungkamnya, dan tidak berterima kasih atas informasinya. Karena Anda pikir cara si Satpam memberi tahu ini kok sangat mengganggu, “……masak sih harus mukul kentongan sampai keras begitu, khan mengganggu tidurku?” Nah, akhirnya Anda menegur si Satpam, bahkan menyumpal kentongan itu supaya nggak bunyi lagi.

Setelah mengalami hal itu berkali-kali, kira-kira bagaimana kemudian perilaku si Satpam? Saya rasa sudah jelas di sini.

Coba, bandingkan dengan cara ini : Anda berterima kasih pada si Satpam karena sudah bekerja keras dan berfungsi dengan baik. Kemudian Anda menegosiasikan pada si Satpam cara lain dalam memberitahu jika ada bahaya mengancam dan meminta cara lain yang lebih ekologis pada lingkungan.

Bagaimana…., jelas cara kedua ini yang lebih baik. Karena si Satpam merasa dihargai, dan bahkan ia dipicu kreatifitasnya supaya menggunakan cara lain yang lebih ekologi, misal menggunakan metode keliling dan melibatkan seluruh satpam piket di lokasi itu, menggunakan lampu merkuri agar lingkungan menjadi sangat terang dan maling takut masuk, memasang portal dan lain sebagainya.

6 STEPS REFRAMING
Kembali pada persoalan sakit gigi tadi. Pada saat seperti itu, biasanya tidak bisa di lakukan conscious reframing, apakah contex reframing maupun content reframing tidak akan jalan, karena sekalipun kita sudah mendapatkan secondary gain-nya, tetap aja rasa sakit gigi itu terasa mengganggu.

Nah, disaaat inilah kita butuh 6 step reframing, untuk menyelesaikan persoalan tersebut agar terjadi integrasi unconscious-conscious integration. 6 Steps Reframing di NLP merupakan teknik klasik yang amat terkenal, dan masih dapat diandalkan saat ini.

Ada pendapat yang mengatakan bahwa teknik ini sudah digantikan dengan teknik parts integration. Hal ini benar untuk beberapa hal, parts integration cocok terutama untuk menyelesaikan konflik parts dalam tubuh kita, namun tidak bisa menggantikan sepenuhnya teknik 6 steps reframing ini. Teknik six steps reframing ini jelas sangat berguna sekali untuk membantu mengatasi permasalahan kesehatan yang ada di dalam tubuh kita, misal menghilangkan rasa ngilu saat sakit gigi tadi, dll.

Pada proses 6 Steps Reframing ini kita diminta untuk berbicara dengan bagian dari diri sendiri. Hal ini mungkin terasa sedikit aneh, namun jika dilakukan Anda akan merasakan begitu besar manfaatnya bisa berkomunikasi dengan tubuh kita sendiri.

LANGKAH
1. Identifikasi persoalan.
Identifikasi tindakan yang ingin diubah. Misalkan “Saya ingin tetap mengetahui jika saya sakit gigi namun saya tidak perlu mengalami ngilu yang luar biasa”.

2. Jalinlah komunikasi dengan bagian-bagian yang bertanggungjawab atas tindakan itu.
Tenangkan diri, tarik nafas halus keluarkan sehingga Anda cukup rileks. Kemudian masuklah ke dalam diri Anda dan tanyakan pada bagian yang menciptakan perilaku itu.
“Bersediakah Anda berkomunikasi denganku, jika ya berikan tanda padaku”. Perhatikan setiap self talk, gambar mental, perasaan tertentu, atau gerakan involuntary muscle yang mungkin merupakan adalah signal dari bagian tubuh anda.
Jika belum memperoleh signal yang jelas, mintalah pada bagian tubuh Anda untuk memberikannya, dengan cara mendefinisikan sesuai keinginan Anda “Tolong gerakkan sedikit jari jempol saya, jika jawabannya adalah Ya”

3. Pisahkanlah maksud positif dari tubuh yang memiliki problem.
Masuklah kedalam dan berterimakasih untuk bagian yang berkomunikasi dengan Anda dan menanyakan “Apa maksud positif hal ini untuk saya?”
Kaakan terima kasih atas jawabannya.

4. Tanyakan pada sisi kreatif anda untuk menemukan cara lain agar tujuan intensi positif itu tetap terpenuhi.
Mintalah 3 pilihan yang memenuhi tujuan positif dari bagian tubuh tetapi tidak memiliki akibat negatif dari gejala itu.

5. Tawarkan 3 pilihan itu pada bagian tubuh yang telah membuat simptom itu.
Mintalah signal jika ia menerima alternatif pilihan. Jika pilihan tidak dapat diterima, atau tidak ada signal, jalani langkah 4 atau tambahkan pilihan.

6. Periksa kondisi apakah sudah ekologis dengan seluruh tubuh yang lain.
Temukanlah jika ada bagian lain yang menolak perubahan. Pergilah kedalam dan tanyakan, Apakah ada bagian yang menolak perubahan? Jika Ya, identifikasikan bagiannya dan lanjutkan ke langkah 2, ulangi daur dengan bagian itu, implementasikan pilihan, masuk kembali dan tanyakan bagian yang bertanggungjawab atas permaslahan itu.

PENUTUP
Beberapa teman yang sudah saya perkenalkan dengan teknik ini lantas menggunakan hal ini untuk mengubah beberapa gejala seperti : gejala sakit saat mens, gejala pusing jika naik pesawat, dan sebagainya. Tentunya Anda juga akan bisa menggunakan untuk berbagai keperluan lain juga.

Satu catatan PENTING SEKALI yang harus diingat dalam mempraktekkan hal ini adalah setelah Anda mengubah cara tubuh memberikan alarm bahaya ini, maka Anda harus TETAP menemui dokter untuk meminta pengobatan atau terapi yang berhubungan dengan hal ini, agar masalah benar-benar terselesaikan.

Gambarnnya adalah : suara alarm sudah tidak mengganggu lagi, namun kebakaran tetap harus dipadamkan, dan sumber kebakaran harus diamankan agar tidak berpotensi menimbulkan kebakaran lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: