Tiga Serangkai Pimpinan Hamas

Renne R.A Kawilarang, Harriska Farida Adiati

Khaled Meshaal (AP Photo)

Harakah al-Muqawwamatul Islamiyyah (HAMAS) atau “Gerakan Perlawanan Islam,” adalah gerakan politis Palestina yang mengendalikan wilayah Gaza.

Organisasi ini dibentuk Desember 1987, di awal intifadah pertama, sebagai sebuah bagian dari gerakan Persaudaraan Muslim Lintas-Arab. Tiga serangkai pendiri Hamas adalah Sheikh Ahmed Yassin, Abdel Aziz al-Rantissi dan Mohammad Taha.

Sheikh Ahmed Yassin menjabat sebagai pemimpin spiritual Hamas. Tokoh Hamas kelahiran 1937 ini tewas dalam serangan helikopter Israel tahun 2004. Semasa hidup, mobilitas Yassin disokong oleh kursi roda setelah sebuah kecelakaan menjadikannya setengah buta saat ia berusia 12 tahun.

Sekitar 200 ribu warga Palestina turut menghadiri pemakaman Yassin. Sedangkan Abdel Aziz al-Rantissi bertugas sebagai pemimpin politik dan menjadi juru bicara kelompok Hamas setelah Yassin tewas. Rantissi juga dibunuh oleh misil Israel, 17 April 2004. Pria bergelar doktor ini tewas dalam usia 57 tahun.

Sementara Mohammad Taha ditangkap oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) pada 2003. Kemudian, setelah ditahan selama 14 bulan tanpa sekalipun diadili, pada 5 Mei 2004 pria 68 tahun ini diperbolehkan kembali ke Gaza.

Kelompok Hamas meraih popularitas di wilayah Palestina karena keberanian mereka melawan okupasi militer Israel, dan juga karena kegiatan sosialnya. Kelompok ini muncul ke permukaan setelah kampanye bersenjata melawan Israel selama intifadah kedua yang berkobar sejak tahun 2000.

Janji kelompok Hamas dipublikasikan Agustus 1988. Prinsip kelompok militan ini adalah menolak segala kesepakatan dengan Israel dan ingin membentuk negara Islam di situ. Otoritas Israel segera mencekal kelompok Hamas segera setelah pengumuman itu.

Kini, tiga orang menjadi pimpinan kelompok Hamas, meneruskan era Yassin, al-Rantissi dan Taha. Mereka adalah Khaled Meshaal, Ismail Haniyah, dan Mahmoud Zahhar.

***
Khaled Meshaal sejak 1995 telah menjadi pemimpin senior politik bagi Hamas. Pria 51 tahun ini hidup dalam pengasingan di Damaskus, ibukota Siria. Dia adalah arsitek kunci kebijakan Hamas terhadap Israel. Bagi warga Palestina, Meshaal adalah pahlawan. Namun bagi Israel, Amerika Serikat, dan negara barat lain, Meshaal dianggap sebagai pemimpin sebuah organisasi yang berkomitmen menghancurkan Yahudi.

“Benar bahwa dalam realitanya, akan ada entitas atau sebuah negara menyebut sisa tanah Palestina sebagai Israel,” kata Meshaal. “Tapi saya tidak akan berkompromi tentang itu, tidak akan mengakuinya,” tegas Meshaal.

Seperti dikutip dari stasiun televisi Al Jazeera, setelah Israel menginvasi Tepi Barat tahun 1967, Meshaal dan keluarganya meninggalkan desa mereka di dekat Ramallah, seperti yang dilakukan keluarga lain. Beberapa waktu kemudian, Meshaal bergabung dengan Persaudaraan Muslim, kelompok Muslim yang berpengaruh terhadap politik.

Meshaal kemudian mendaftar sebagai mahasiswa di Universitas Kuwait, dia belajar fisika dan bergabung dengan kelompok mahasiswa yang disebut Daftar Hak-Hak Islam. Saat Hamas dibentuk tahun 1987, Meshaal memimpin cabang organisasi tersebut di Kuwait.

Meshaal meninggalkan Kuwait ketika terjadi invasi Irak tahun 1990. Meshaal pindah ke ibukota Yordania, Amman, di mana dia menjadi ketua cabang Hamas.

Meshaal sempat mengalami percobaan pembunuhan dari Benjamin Netanyahu,tahun 1997. Setelah Sheikh Ahmed Yassin terbunuh tahun 2004, dan beberapa pekan kemudian Abdel Aziz al-Rantissi juga tewas, reputasi Meshaal sebagai tokoh Hamas menjadi lebih nyata.

Namun dia tidak dapat kembali ke wilayah Palestina karena ada ketakutan akan ada percobaan pembunuhan atau penangkapan oleh pemerintah Israel. Untuk itu, Meshaal tinggal di pengasingan sejak 2001. Dia tetap dengan tegas mengatakan bahwa Hamas dan rakyat Palestina hanya berjuang untuk membela diri dari serangan Israel.

“Israel memulai okupasi dan sebagai tanggapan, muncul usaha untuk membela diri,” kata Meshaal. “Mana yang datang terlebih dulu, okupasi atau pembelaan diri?” lanjut Meshaal.

***

Mahmoud Zahhar, seorang ahli bedah yang mengajar ilmu kedokteran di Universitas Islam di Gaza. Dia juga ikut membantu Yassin membentuk Hamas. Zahhar kemudian menjadi anggota “kepemimpinan kolektif” kelompok militan ini pada 2004 setelah Yassin dan Rantissi terbunuh.

Mahmoud Zahhar

Zahhar dianggap memiliki aliran lebih keras daripada rekannya, Ismail Haniyah.  Zahhar lahir tahun 1945 di daerah Zeitoun di Kota Gaza, ibunya adalah seorang Mesir dan ayahnya asli Palestina.

Zahhar menghabiskan masa muda di Mesir, dia belajar kedokteran di Universitas Ain Shams di Kairo. Setelah lulus, dia mengambil spesialisasi ilmu bedah umum selama lima tahun.

Zahhar kemudian kembali ke Gaza dan mengajar di Fakultas Kedokteran, Universitas Gaza, sama seperti Rantissi. Di situlah ia bergabung dengan cabang organisasi Islam terbesar dan tertua Mesir, Persaudaraan Muslim. Zahhar juga menjadi perwakilan tidak resmi di Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) tahun 1990.

Seperti dikutip dari stasiun televisi BBC, pada Desember 1992, Zahhar beserta saudara laki-lakinya Fadel, dan juga Rantissi termasuk tiga dari sekitar 400 aktivis Islam yang dideportasi oleh Perdana Menteri Israel Yitzhak Rabin, ke Libanon selatan.

Zahhar dan Rantissi diizinkan kembali ke Gaza sekitar setahun berikutnya. Kembali ke Gaza bukan berarti perjuangan berakhir. Zahhar selalu menentang kebijakan otoritas Palestina, sehingga pasukan keamanan Palestina menangkapnya beberapa kali. Zahhar sempat mendekam di penjara selama tujuh bulan.

Dengan berkobarnya intifada kedua September 2000, popularitas Hamas semakin meningkat karena bom bunuh diri anggota sayap militer organisasi, Brigade Izzedine al-Qassam, terhadap Israel yang menewaskan sejumlah besar warga sipil Israel.

Israel merespon serangan dengan balik menyerang pemimpin politik dan militer Hamas. 10 September 2003, Israel mengebom kediaman Zahhar di Gaza, menghancurkan rumahnya. Zahhar selamat dari maut, tetapi malang bagi anak laki-lakinya yang berusia 25 tahun, Khaled, dan seorang penjaga rumah, terbunuh.

Waspada akan terjadi serangan berikutnya, Hamas menjaga kerahasiaan siapa pengganti Rantissi. Namun sumber menyebutkan bahwa pemimpin baru Hamas di Gaza adalah Zahhar, Ismail Haniyah, dan Said al-Siyam.

Sejak saat itu, Zahhar membawa pengaruh besar dalam proses politik Palestina. Hamas menyepakati gencatan senjata informal dengan Israel yang dimulai Februari 2005.

Hamas juga mengambil bagian dalam pemilihan umum untuk kali pertama. Walaupun komunitas internasional menyerukan agar kelompok Hamas menghentikan serangan, Zahhar dengan tegas mengatakan bahwa organisasinya mempunyai hak untuk bertahan dari serangan Israel.

“Kami tidak melakukan teror atau kekerasan. Kamilah yang berada di bawah penjajahan,” kata Zahhar. “Israel terus melakukan agresi terhadap kami, membunuh, menawan, menghancurkan kami. Untuk menghentikan semua itu, kami membela diri dengan berbagai cara, termasuk menggunakan senjata.”

Namun Zahhar juga mengemukakan kemungkinan diadakan pembicaraan damai dengan Israel melalui pihak ketiga.

***
Ismail Haniyah bukanlah siapa-siapa sebelum memimpin kampanye Hamas, sehingga kelompok militan ini menang dalam pemilihan legislatif Palestina, Januari 2006. Dia dekat dengan pemimpin spiritual Hamas, Yassin.

Ismail Haniya

Haniyah dikenal sebagai tokoh pragmatis yang lebih terbuka untuk berdialog dengan Israel. Namun dia menegaskan bahwa dialog damai dapat dilakukan bila Israel menerima hak-hak Palestina.

Haniyah lahir tahun 1962 di kamp pengungsian Shati di bagian barat kota Gaza. Dia belajar sastra Arab di Universitas Islam Gaza, tempat awal dia mengenal dan bergabung dengan gerakan Islam. Haniyah lulus tahun 1987 saat perlawanan terhadap Israel karena okupasi bergejolak.

Beberapa kali Israel menangkap Haniyah, dia pun sempat mendekam di penjara selama tiga tahun. Saat dibebaskan tahun 1992, Israel mendeportasi Haniyah bersama dengan seniornya, Rantissi dan Zahhar. Haniyah kembali ke Gaza Desember 1993 dan diangkat sebagai dekan Universitas Islam.

Setelah Israel membebaskan Yassin dari penjara pada 1997, Haniyah ditunjuk sebagai asisten. Hubungan dekat mereka membuat Haniyah menonjol dalam pergerakan dan dia menjadi wakil Palestina dalam Otoritas Palestina.

Dengan riwayat hidup demikian, datanglah ancaman dari Israel untuk membasmi pemimpin politik dan militer Hamas. Bersama Yassin, Haniyah sempat mengalami luka-luka akibat serangan udara Israel di sebuah apartemen di kota Gaza.

Bersama Mahmoud Zahhar dan Said al-Siyam, Haniyah bergabung dalam “kepemimpinan kolektif”. Walaupun Zahhar dianggap paling senior, tetapi Haniyah terpilih menjadi pemimpin kampanye Hamas untuk pemilihan umum 15 Januari lalu.

Pemimpin Palestina, Mahmoud Abbas, meminta Hamas untuk membentuk pemerintahan baru. Namun perundingan untuk mengusahakan koalisi dengan mantan partai yang berkuasa, Fatah, gagal.

Ketika Haniyah membeberkan program kerja pemerintahannya, Haniyah mendesak Amerika Serikat dan Uni Eropa untuk tidak mengancam dengan menghentikan pembiayaan Otoritas Palestina kecuali Hamas melakukan kekerasan.

Haniyah menekankan bahwa Palestina akan terus berjuang meraih kemerdekaan, tetapi pada saat yang sama dia juga ingin  mengadakan perundingan damai dengan bantuan mediator internasional.

“Pemerintah kami akan mengupayakan perdamaian di wilayah ini, mengakhiri pendudukan [Israel] dan mendapatkan kembali hak-hak kami,” kata Haniyah.

One Response

  1. Solidaritas untuk membeli sebuah wilayah yg diperuntukkan bagi bangsa Palestina, dimana mereka bisa hidup dan berdaulat di situ, semoga Arab jangan pelit-pelit nyumbang…. Jahudi dulu ga punya wilayah, tapi berkat solidaritas Jahudi Internasional mereka mampu membeli sedikit demi sedikit tanah Palestina sampai berkuasa atas tanah itu… pelajaran moral bagi Indonesia ialah, kalau kita menjual wilayah kita kepada bangsa asing maka kita akan benasib sama seperti Palestina, terusir dari tanah sendiri

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: